BeritaSimalungun

Sumber Air Bersih Sihaporas Terancam Akibat Aktivitas PT. TPL

Pasca selesai melaksanakan ritual adat Patarias Debata Mulajadi Nabolon di Sihaporas Kamis lalu , Masyarakat adat Sihaporas kini dihadapkan pada permasalahan baru terkait aktivitas pembuangan limbah kegiatan operasional PT. Toba Pulp Lestari (TPL) secara sembarangan yang semakin merusak alam dan lingkungan di wilayah adat Sihaporas khusunya daerah aliran sungai. Hal ini dibuktikan dengan ditemukanya ikan-ikan yang mati mendadak disekitar sungai Maranti dan kolam besar milik warga Sihaporas yang menjadi tempat pelaksanaan ritual martutu aek pada ritual Patarias Debata Mulajadi Nabolon yang dilakukan warga Sihaporas sehari sebelumnya. Sungai meranti sendiri menjadi salah satu sumber air bersih bagi masyarakat adat Sihaporas. Warga yang marah atas kejadian ini pun datang ke Kamp para pekerja PT. TPL untuk memastikan lebih lanjut tentang aktivitas pembuangan limbah pestisida (Racun) yang dilakukan oleh para pekerja PT. TPL. Warga yang sudah gerah dengan tindakan tersebut pun mengepung Kamp pekerja PT. TPL tersebut untuk memastikan supaya barang-barang bukti tidak dihilangkan dan para pekerja yang terindikasi menjadi pelaku agar tidak kabur. Di sekitar Kamp pekerja tersebut, warga menemukan banyak ikan-ikan serta kepiting yang mati  dan puluhan botol pestida yang digunakan sebagai racun untuk membunuh gulma.

Masyarakat adat Sihaporas sangat mengantungkan pasokan air bersih dari sungai-sungai besar seperti sungai Meranti dan Sidogor-dogor. Kamp pekerja PT. TPL sendiri berada dekat dengan hulu sungai yang menjadi sumber air dari sungai Meranti dan Sidogor-dogor tersebut. Kehacancuran ekosistem dan dampak yang timbulkan dari aktivitas pembuangan limbah ini jelas sangat merugikan masyarakat adat Sihaporas. Di sekitar sungai-sungai tersebut masih terdapat banyak Ihan Batak, yang keberadaannya sendiri kini mulai sulit ditemukan.  Dimana dalam pelaksanaan ritual-ritual adat, Ihan Batak ini sangat diperlukan sebagai syarat ritual adat. Belum lagi sungai tersebut merupakan pemasok kebutuhan sehari-hari warga Sihaporas sehingga aktivias pencemaran limbah tersebut sangat membahayakan warga Sihaporas. Masyarakat adat Sihaporas kini menjadi khawatir untuk mengkomsumsi air dari sungai tersebut sementara pasokan air bersih sehari-hari masyarakat Sihaporas bersumber dari sungai-sungai tersebut.

Masyarakat adat Sihaporas lewat lembaga adat mereka LAMTORAS telah melaporkan kejadian ini kepada Polsek Sidamanik dan  Polres Simalungun agar segera menindaklanjuti kejadian tersebut dan memproses hukum para pelakunya.  Kegiatan operasional PT. TPL saat ini semakin masif merusak lingkungan di Sihaporas,  disamping pencemaran lingkungan oleh limbah pestida oleh para pekerja PT. TPL, PT. TPL sendiri juga dari beberapa minggu belakangan ini nyaris membabat habis hutan-hutan yang menjadi sumber penopang kehidupan masyarakat adat Sihaporas untuk perluasan perkebunan ekauliptus mereka.

Perlu tidakan lebih lanjut dari Pemerintah Kabupaten Simalungan dan terkhususnya Mentri KLHK utuk mengevaluasi lebih lanjut terkait standart operasional yang dilakukan oleh PT. TPL selama ini. Sebab PT. TPL selama ini selalu menyanggah jika kegiatan operasional mereka tidak merusak lingkungan namun jika dilihat dari fakta selama ini, PT. TPL merupakan penyumbang terbesar kehancuran lingkungan di sekitar kawasan Danau Toba. Jika hal ini terus dibiarkan maka tentunya akan sangat mengacam keberlangsungan hidup masyarakat serta ekosistem pendukung kehidupan yang ada di Sihaporas. Belum lagi aktivitas pengundulan  hutan-hutan sekitar wilayah adat Sihaporas yang semakin masif , yang dimana keberadaan hutan tersebut  sangatlah penting dan memiliki ikatan spritual dengan masyarakat adat Sihaporas.

tanobatak

Sebuah organisasi masyarakat adat yang ada di daerah Tanah Batak Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *